Harga Gabah Tembus Rp 6.500! Mbah Sipon Sampai Lupa Ngunyah Sirih, Warga Ngetep Ngromo Semangat Bertani

 


Pagi itu di Ngetep, Ngromo, Nawangan, suasana bukan seperti biasanya. Kalau biasanya ayam jantan baru berkokok dua kali warga sudah pada sibuk nyabit rumput atau cek sawah, hari ini semua pada numpuk di balai desa.

Ada yang bawa cangkul belum dicuci, ada yang bawa gelas kopi masih berasap, bahkan ada yang bawa bayi yang lagi ngeloyor karena ditarik ibunya buru-buru. Penyebabnya satu: kabar harga gabah hari ini tembus Rp 6.500 per kilo.

Kabar itu datang dari Pak RT yang naik sepeda motor keliling kampung sambil teriak, sampai ban sepedanya hampir copot.

Awalnya banyak yang tidak percaya. Ada yang bilang "Masa sih? Kemarin saja Rp 4.800, Pak RT jangan lagi bercanda kayak hari April Mop," ada juga yang langsung pegang nadi sendiri takut tiba-tiba pingsan karena kaget. Sampai akhirnya muncul sosok yang jadi penentu kebenaran: Mbah Sipon.

Mbah Sipon adalah petani sepuh di desa itu. Umurnya sudah 78 tahun, tapi badannya masih tegap kayak tiang listrik, tangannya kasar karena puluhan tahun pegang cangkul, dan suaranya lantang sampai bisa didengar sampai ke sawah sebelah desa.

Kalau Mbah Sipon sudah bicara, warga pada diam. Bukan karena takut, tapi karena dia tidak pernah bohong soal harga gabah—pengalamannya lebih banyak dari jumlah padi yang pernah dia panen.

Saat ditemui di teras rumahnya, Mbah Sipon lagi duduk sambil megang daun sirih yang sudah lupa dikunyah. Matanya melotot, tangannya gemetar, tapi senyumnya lebar sampai hampir kupingnya ketemu di belakang kepala.

"Alhamdulillah, Nak…" katanya pelan, lalu tiba-tiba suaranya menggelegar sampai ayam peliharaannya kabur ketakutan. "Rp 6.500, Nak! Enam ribu lima ratus! Bukan enam ratus lima puluh, bukan seribu lima ratus, tapi ENAM RIBU LIMA RATUS!"

Ceritanya, pagi itu dia baru saja pulang dari tempat penggilingan padi. Awalnya dia kira petugasnya salah ketik di papan tulis, jadi dia tanya tiga kali. Setiap kali dijawab "Iya, Mbah, benar Rp 6.500," Mbah Sipon hanya mengangguk tapi dalam hatinya masih ragu.


DAFTAR STARLITE INTERNET SUPERCEPAT HARGA MERAKYAT, KLIK DISINI 

Sampai akhirnya petugas itu kasih contoh hitungan: kalau panennya 1 ton, dapatnya Rp 6,5 juta.

"Pas dengar itu, saya hampir pingsan, Nak. Bukan karena sakit, tapi karena senengnya kebangetan. Selama saya bertani dari umur 17 tahun, harga setinggi ini baru kedua kalinya saya rasakan. Yang pertama itu zaman Pak Harto masih jadi presiden, saya masih muda dan rambut saya masih hitam semua—sekarang sudah pada minggat semua rambut hitam saya," candanya sambil garuk kepala yang botak sebagian.

Mbah Sipon bercerita, tiga bulan lalu dia sempat hampir menyerah. Hujan turun tidak menentu, hama wereng sempat nyerang sawahnya separuh, sampai dia sempat berpikir "Kalau harga jelek lagi, tahun depan saya jual cangkul saja saya buat pajangan warung."

Dia sudah hitung-hitung, kalau harga cuma Rp 5.000 per kilo, dapatnya cuma cukup buat bayar pupuk dan bayar orang bantu panen, sisanya cuma cukup buat beli beras buat makan sendiri.

"Tapi Alhamdulillah, Tuhan baik sama kami petani. Kali ini hasil keringat saya selama empat bulan ngurus sawah, tidur di gubuk tengah sawah jaga dari babi hutan, mandi air dingin subuh-subuh, semuanya terbayar lunas," katanya sambil usap mata yang mulai berkaca-kaca—tapi segera dia tutupi dengan tertawa, bilang "Ini bukan nangis, Nak, ini mata saya kemasukan debu dari jalan raya."

Ditanya mau beli apa dari hasil panen nanti, jawaban Mbah Sipon bikin siapa saja yang dengar senyum. Bukan mobil, bukan motor baru, apalagi emas batangan.

"Pertama, saya mau ganti sandal jepit saya yang ini. Lihat sendiri, sudah jebol di kiri dan kanan, talinya sudah saya ikat lima kali sampai bentuknya aneh. Sudah mau saya buang tiga kali, tapi sayang karena dia sudah setia menempi saya ke sawah lima tahun. Nanti saya beli yang baru, yang ada motif bunga biar kelihatan muda. Kedua, saya mau stok kopi sachet satu kardus. Selama ini saya cuma beli satu bungkus sehari, kadang kalau lagi hemat saya bagi dua buat pagi dan sore. Nanti mau minum sepuasnya, mau bikin dua sendok gula juga tidak perlu takut habis. Ketiga, saya mau traktir cucu-cucu saya es doger satu gerobak. Mereka sudah minta dari bulan lalu, tapi saya tunda karena uangnya belum ada. Yang terakhir… saya mau tabung sisanya buat biaya nanti kalau saya sakit-sakitan, supaya tidak merepotkan anak cucu."

 

DAFTAR STARLITE INTERNET SUPERCEPAT HARGA MERAKYAT, KLIK DISINI 

Sementara itu, suasana di sepanjang jalan desa Ngetep juga tidak kalah heboh. Ada bapak-bapak yang pada salaman sambil menangis haru, ada yang sampai lupa matikan kompor masak sayur asem sampai gosong, bahkan ada yang langsung nyanyi lagu dangdut sambil jalan ke sawah dengan semangat baru.

Ibu-ibu pada ngobrol di pinggir jalan sambil bawa belanjaan, ada yang bilang "Nanti kalau uangnya cair, saya beli telur satu kilo, bukan sepuluh butir lagi seperti biasa," ada juga yang bilang "Saya mau ganti panci saya yang bolong, sudah saya tambal tiga kali pakai lem."

Meskipun semua pada senang luar biasa, Mbah Sipon tetap berpesan supaya warga tidak boros.

"Jangan karena harga lagi baik, kita pada beli barang yang tidak perlu. Ingat, tahun depan harga bisa saja turun lagi. Sawah tetap harus diurus, pupuk tetap harus dibeli dengan bijak, dan yang paling penting—jangan lupa sedekah sebagian hasilnya buat yang kurang mampu. Rezeki ini titipan Tuhan, harus dibagi biar berkah," pesannya dengan nada serius, tapi tidak lama kemudian dia tertawa lagi sambil bilang "Tapi sandal jepit baru dan kopi satu kardus itu tetap harus dibeli, itu kebutuhan pokok petani!"

Menjelang siang, Mbah Sipon sudah berdiri lagi di pinggir sawahnya. Dia memandang padi-padi yang sudah menguning, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang keriput karena matahari dan kerja keras. Senyumnya tidak hilang sejak pagi.

"Petani itu memang kerjanya berat, Nak. Bangun sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari tenggelam. Kadang hasilnya tidak sebanding dengan keringat. Tapi kalau dapat harga seperti ini… rasanya semua lelah itu hilang sekejap. Rasanya mau panen lagi besok saja," tutupnya sambil angkat cangkul, siap kembali bekerja dengan semangat yang seratus kali lipat lebih besar dari biasanya.

Kalau suatu saat kamu lewat Ngetep Ngromo Nawangan dan lihat banyak petani pada senyum-senyum sendiri sambil jalan, jangan kira mereka lagi gila.

Itu cuma tanda bahwa harga gabah lagi baik, dan Mbah Sipon beserta warga sedang menikmati kebahagiaan sederhana yang sudah lama mereka nantikan.

Dan kalau kamu lihat ada kakek tua pakai sandal jepit motif bunga baru sambil bawa kopi sachet banyak, itu pasti Mbah Sipon—jangan lupa salam, ya.

Posting Komentar